JAKARTA (Arrahmah.com) – “I can tolerate homosexualism, I can tolerate lesbianism, but I can’t tolerate plagiarism.” Ucapan itu dikatakan salah seorang dosen Sastra di UI. Dengan entengnya, ia mengatakan menjiplak sebuah karya lebih berbahaya dari homoseksualisme. Lantas sejak kapan kampus penghasil aktifis dakwah kampus itu berada dalam bayang-bayang liberalisme?