Monday, December 5, 2011

TAUHID: DASAR KONSEP PENDIDIKAN ISLAM


Oleh: Imam Nawawi
TIDAK bisa dipungkiri bahwa pendidikan hari ini masih belum bisa dikatakan baik. Hal ini jika mengacu pada pendapat Fritjof Capra. Ia dengan tegas menyatakan bahwa hari ini manusia menemukan diri mereka berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis kompleks dan multidimensional yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan kesehatan dan mata pencaharian, kualitas lingkungan dan hubungan sosial, ekonomi, teknologi, dan politik. Demikian kutip Capra.


Krisis tersebut, menurut Capra, merupakan krisis dalam dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spiritual; suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnyaa dalam catatan sejarah umat manusia. Pendapat Capra ini tidaklah berlebihan, utamanya jika dikomparasikan dengan situasi terakhir pada beberapa negara di dunia, lebih khusus bangsa Indonesia.
Semua orang tentu sangat terkejut dengan kondisi bangsa hari ini. Bagaimana tidak, ahli hukum justru melanggar hukum. Belum lagi situasi perekonomian global yang cenderung memburuk. Padahal seperti kita ketahui bersama, ahli di berbagai bidang tersebut juga tidak sedikit jumlahnya.
Korupsi merajalela, pergaulan bebas membudaya, ketidakjujuran menggurita, dan beragam bentuk tindakan tidak manusiawi lainnya. Ini adalah dampak terkecil ketika manusia menjadikan akalnya sebagai Tuhan dan menegasikan wahyu sebagai petunjuk (Anthropocentrism). Dan, semua fakta, data, maupun peristiwa yang membuat akal sehat dan nurani kita hari ini tercabik-cabik adalah akibat manusia berpaham anthropocentris.
Modernitas tak mampu menjadi penyejuk kemanusiaan. Justru ia merusak hakikat hidup dan kemanusiaan sekaligus. Maka layak kita menggugat, mengapa di dunia modern, yang selalu mengidentikkan diri dengan kekuatan ilmu, rasionalitas, dan efektivitas, justru tidak berkutik melihat pengeroposan nilai-nilai kemanusiaan yang kian memburuk?
Tauhid sebagai Azas Pendidikan
Dari sudut pandang Islam, problematika besar yang melanda kemanusiaan di abad ini disebabkan oleh gerakan pemujaan akal dan pengabaian secara sengaja terhadap mu’jizat akhir zaman yakni al-Qur’an. Atas situasi tersebut Prof. Dr. M. Naquib Al-Attas menjabarkan secara cermat dan menyeluruh, perlunya penerapan gagasan Islamisasi Ilmu.
Ilmu yang hari ini ada tidak saja telah rusak tetapi juga sangat berperan dalam menggiring manusia pada kesesatan berpikir yang sangat berbahaya. Kesesatan yang berakibat pada hilangnya dasar-dasar kemanusiaan dan menjadikan manusia hidup dalam hukum kebinatangan.
Secara historis-normatif, apa yang terjadi hari ini merupakan satu keberhasilan upaya Iblis, musuh nyata seluruh umat manusia dalam menjauhkan mereka semua dari jalan wahyu.
Sejak pertama kali diciptakan sebagai seorang khalifah, Allah telah memberikan penegasan kepada Adam bahwa Iblis adalah musuh yang nyata baginya dan seluruh keturunan umat manusia. Bahkan dalam al-Qur’an telah jelas sekali mengapa Iblis yang lebih senior daripada Adam, justru terlempar dari surga dan hidup dalam kutukan Allah. Tiada lain dan tiada bukan karena Iblis gagal memanfaatkan akalnya dengan baik.
Akal yang diberikan Allah kepada Iblis ia gunakan untuk mendebat perintah Allah. Dengan argumentasi rasionalitasnya, Iblis berkeyakinan protesnya kepada Allah untuk tidak hormat kepada Adam akan dibenarkan. Ternyata tidak, Allah langsung murka kepada Iblis dan mengutuknya hingga akhir zaman, kemudian akan disiksa selama-lamanya di dalam neraka.
Paparan Allah dalam al-Qur’an itu mengindikasikan satu kehendak kuat bahwa semestinya manusia benar-benar tunduk, patuh, dan taat kepada Allah semata, seperti apapun akal memandang perintah tersebut. Suka tidak suka, perintah Allah harus dilaksanakan dan segala larangan harus ditinggalkan.
Termasuk dalam dunia pendidikan. Tujuan pendidikan hendaknya tidak direduksi hanya pada aspek material semata. Pendidikan seharusnya justru mengintegrasikan kekuatan besar manusia, yaitu akal dan jiwa. Akal membutuhkan informasi, dan jiwa sangat membutuhkan petunjuk (wahyu). Oleh karena itu kita perlu satu konsep pendidikan yang berbasis tauhid.
Sebuah konsep pendidikan yang mengantarkan peserta didik mengenal dirinya sekaligus mengenal Allah, tumbuh spirit belajarnya, tampil dengan semangat etos kerja yang membanggakan, dengan niat semata-mata karena Allah demi umat Islam.
Penyebab Kekalahan Umat Islam
Sekalipun setiap kita mengamini gagasan perlunya pendidikan berbasis tauhid, tetapi dalam ranah praktik sebagian besar mungkin masih ada yang ragu atau bahkan mungkin memilih untuk tidak terlalu pusing dengan masalah konsep tauhid. Padahal jelas sekali, fenomena kemanusiaan yang buruk hari ini akibat diterapkannya konsep pendidikan yang dikotomik.
Hampir semua pemikir Muslim kontemporer sepakat bahwa kemunduran yang terjadi ini adalah akibat dari umat Islam yang tidak lagi antusias dalam menjalankan ajaran agama Islam. Bahkan mentadabburinya pun boleh dibilang sudah cukup redup. Sejauh ini kita tidak salah jika berpendapat bahwa hampir setiap hari umat Islam membaca koran tapi tidak demikian dalam membaca al-Qur’an.
Strategi Konsep Pendidikan Berbasis Tauhid
Tugas membangun pendidikan berbasis tauhid ini bukan monopoli atau tanggung jawab para guru semata. Ini adalah tugas kita bersama. Bagaimana kita mewujudkannya? Beberapa langkah berikut diharapkan mampu memberikan satu jawaban konsepsional dan praktik sekaligus.
Pertama, bermujahadah dalam mentadabburi, mentafakkuri kandungan kitab suci al-Qur’an dan mengamalkannya secara massal bahkan kolossal. Tidak bisa hanya pribadi, atau kelompok semata. Tetapi harus serempak dan sinergis berkesinambungan.
Kedua, meninggalkan paham anthroposentris dan segera menuju pada paham tauhidi. Sebagaimana atsar sayyidina Ali bahwa, akal dan wahyu ibarat dua tanduk yang tidak bisa dipisahkan apalagi dipertentangkan. Maka, tidak ada ruang bagi jargon, agama jangan pakai akal, atau pun akal tidak perlu agama, sebagaimana kampanye para pemikir Barat kontemporer yang dipelopori oleh Rene Descartes dengan cogito ergo sum-nya.
Ketiga, seluruh umat Islam berkewajiban meningkatkan kepekaan atau sensitivitas terhadap kondisi umat Islam secara menyeluruh, sehingga lahir kepedulian yang tinggi untuk bersama-sama mengambil peran dalam menjawab tantangan zaman.
Keempat, mulailah satu gerakan walau kecil untuk mencintai dan memakmurkan masjid. Setidaknya dengan cara meramaikan pelaksanaan sholat jama’ah di masjid lima waktu, meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan keilmuan di masjid, bahkan mungkin kegiatan ekonomi di masjid.
Kelima, setiap muslim hendaknya meningkatkan kualitas diri dengan mempertajam bekal keilmuan ukhrowi dan duniawi sekaligus. Kita tidak boleh hanya paham satu ilmu dan lali terhadap ilmu yang lain. Bukankah para nabi kita adalah orang yang ahli dalam ilmu-ilmu ukhrowi dan duniawi sekaligus?
Nabi Nuh ahli perkapalan. Nabi Ibrahim seorang arsitek pembangunan. Nabi Yusuf seorang pakar ekonomi yang berhasil menyelamatkan umatnya dari ancaman kelaparan. Nabi Isa juga ahli kesehatan. Dan, nabi kita, rasulullah Muhammad saw juga seorang pakar ekonomi, pakar bisnis, bahkan pakar dalam segala bidang.
Begitu pula para alim ulama kita di masa lalu. Ibn Sina pakar kesehatan juga ahli hadis. Fakhruddin al-.Razi pakar sastra, tafsir, bahkan juga logika. Imam Ghzali pakar filsafat sekaligus seorang sufi. Nah, saatnya beralih menuju pendidikan berbasis tauhid.
Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana di Univ Ibnu Khaldun, Bogor


No comments:

Post a Comment

Silakan Berkomentar

Post a Comment